
Salah satu upaya untuk
meningkatkan iman dan takwa adalah dengan menumbuhkan empati dan berbuat
kebaikan yang terus menerus terhadap saudara-saudara kita yang sedang tertimpa
musibah. Bencana yang menimpa saudara kita di Aceh dan Sumatra, pada hakikatnya
tidak hanya ujian bagi mereka, tetapi juga ujian bagi iman kita. Seberapa jauh
jiwa kita terpanggil untuk merasakan penderitaan mereka, dan seberapa besar
kepedulian kita tergerak untuk memberikan bantuan kepada mereka.
Menumbuhkan empati melalui aksi
nyata dengan memberikan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang sedang
tertimpa musibah merupakan anjuran yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam.
Allah swt berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat,
ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki.” (QS An-Nisa’: 36).
Dalam ayat yang lain, Allah swt
juga berfirman:
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Ma’idah : 2).
Merujuk penjelasan Imam
al-Qurthubi, salah satu alasan kenapa Allah menyandingkan kata “tolong menolong
dalam kebaikan” dan “takwa”, karena agar kita sadar bahwa kesempurnaan iman
seseorang adalah apabila sudah mampu menggabungkan keduanya dalam aksi nyata.
Tolong menolong artinya kita berempati terhadap orang lain, sementara takwa
artinya kita menjalankan perintah dari-Nya.
Apabila mampu menggabungkan
keduanya dalam aksi nyata sehari-hari, di situlah letak kesempurnaan iman kita.
Karena dalam ketakwaan terdapat ridha Allah, dan dalam tolong-menolong dalam
kebaikan terdapat ridha manusia. Imam al-Qurthubi dalam kitab al-Jami’ li
Ahkamil Qur’an, jilid VI, halaman 47 mengatakan:
“Allah menganjurkan untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan
menggandengkannya dengan takwa kepada-Nya, karena sesungguhnya dalam takwa
terdapat ridha Allah, dan dalam kebajikan terdapat ridha manusia. Dan
barangsiapa yang menggabungkan antara ridha Allah dan ridha manusia, maka
sungguh telah sempurna kebahagiaannya dan meluaslah nikmatnya.”
Di antara cara menumbuhkan empati
terhadap korban bencana adalah dengan mulai membuka hati untuk merasakan apa
yang mereka rasakan, kemudian mendorong diri untuk melakukan sesuatu yang
nyata, seperti dengan menyisihkan sebagian harta, membantu proses evakuasi atau
penggalangan dana, atau menyebarkan informasi yang benar agar bantuan tepat
sasaran, sembari mendoakan mereka dengan sungguh-sungguh.
Demikianlah seharusnya kita bersikap dan
bertindak ketika melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Sebab kita
semua sejak awal dibangun di atas ikatan saling peduli dan saling menguatkan. Maka setiap kali ada saudara kita yang
tertimpa musibah, sesungguhnya hal itu adalah tanggung jawab kita untuk menutup
segala retakan dan kesedihan yang mereka alami.
Setiap empati, kepedulian,
kebaikan dan pertolongan yang kita berikan kepada saudara kita yang sedang
menderita itu tidak akan pernah sia-sia. Ia akan menjadi tabungan yang Allah
simpan untuk kita, dan akan kita tuai kelak di akhirat.
Allah swt berfirman :
”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal kebajikan,
sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam
surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya.
Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al
ankabut : 58)
(yaitu)
orang-orang yang sabar dan bertawakal kepada Tuhannya. (QS. Al Ankabut :
59) #rif