
Sungai yang dulu jernih kini keruh dan tercemar oleh
limbah serta sampah. Udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru
dipenuhi asap dan polusi. Hutan yang dahulu rimbun, tempat berbagai makhluk
hidup dengan ekosistemnya, kini banyak yang hilang akibat pembabatan
penggundulan hutan tanpa reboisasi.
Semua
kerusakan itu, terjadi karena ulah kita sebagai umat manusia yang enggan
merawat alam. Yakni, ketika kita lebih mementingkan keuntungan sesaat daripada
kelestarian, ketika keserakahan mengalahkan kepedulian, dan ketika hawa nafsu
lebih kuat daripada tanggung jawab.
Allah
Swt telah mengingatkan dengan sangat jelas nan tegas bahwa kerusakan yang
tampak di darat maupun di laut bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja
tetapi akibat ulah kita sebagai manusia, agar kita sadar, kembali, dan
memperbaiki diri. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 41:
Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat
mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali
(ke jalan yang benar).”
Al-Baidhawi
dalam Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, jilid 4, halaman 208 menjelaskan, makna
fasad yang berarti kerusakan pada QS. Ar-Rum ayat 41 tersebut, sebagai berbagai
bencana alam yang tampak di darat dan laut, karena ulah manusia.
Artinya:
“(Kerusakan di darat dan di laut) itu
tampak dalam bentuk kekeringan, kematian, banyaknya kebakaran dan tenggelam
(banjir atau tsunami), gagalnya usaha, hilangnya keberkahan, meningkatnya
mudarat (kesialan), atau berupa kesesatan dan kezaliman. Dan ada yang
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laut adalah desa-desa pesisir, dan
terdapat pula qira’ah dengan lafaz al-buhur. (Semua itu) disebabkan oleh apa
yang diperbuat tangan manusia yakni karena buruknya dampak maksiat mereka atau
karena perbuatan mereka sendiri.”
Fenomena
alam sekarang ini, menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang nyata. Banjir datang
lebih sering, suhu udara sekitar pemukiman menjadi tidak stabil dan cenderung
panas, hutan terus menyusut, dan polusi ada di mana-mana. Semua ini bukan
terjadi tanpa sebab, melainkan akibat dari ulah kita sebagai manusia tamak yang
mengabaikan keseimbangan dan melampaui batas yang Allah tetapkan bagi bumi.
Bencana yang terjadi seakan mengajak kita untuk merenung, melihat kembali
cara kita memperlakukan bumi, dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat.
Allah menegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 30:
Artinya: “Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah
karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).”
Mengenai
QS. Asy-Syura ayat 30 ini, Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, jilid 25, halaman
72 menegaskan, musibah atau bencana yang menimpa manusia tidak terjadi dengan
sendirinya, tetapi memiliki keterkaitan dengan perbuatan manusia. Ia
menjelaskan bahwa berbagai bencana dan keadaan yang tidak menyenangkan, seperti
sakit, kekeringan, tenggelam, petir, gempa, dan semisalnya, sering kali muncul
sebagai konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan kepada alam.
Kerusakan
alam dan bencana yang terjadi bukan sekadar peristiwa natural atau hanya takdir
Tuhan semata, tetapi sangat terkait dengan perilaku kita yang mengabaikan
kelestarian. Ketika keseimbangan alam dirusak, maka dampaknya akan kembali
kepada manusia, sebagai pengingat agar kita memperbaiki sikap dan menghentikan
kebiasaan yang merugikan lingkungan.
Rasulullah
Saw mengingatkan hal itu dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim, bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri:
Artinya:
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau.
Dan sungguh, Allah menjadikan kalian sebagai pengelola (khalifah) di dalamnya
untuk melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap godaan
dunia, dan berhati-hatilah terhadap godaan perempuan, karena fitnah pertama
yang menimpa Bani Israil adalah pada urusan perempuan.” (HR. Muslim)
Semoga
Allah menjadikan kita menjadi hamba-Nya yang amanah dalam memelihara bumi dan
menjauhkan kita dari musibah. Aamiin ya rabbal alamin. #rif