
Kadang secara
tidak Sadar kita masih sering salah dalam memaknai rezeki, Imam Sya’rawi, dalam
kitab tafsirnya menyatakan bahwa
“Rezeki adalah perkara yang dapat dimanfaatkan oleh manusia,
meskipun mayoritas orang hanya melihat rezeki hanya bersifat materi saja,
seperti uang, tanah, pekarangan, makanan dan pakaian saja. Namun, pada
hakikatnya rezeki merupakan kumpulan berbagai hal yang dapat dimanfaatkan,
termasuk yang berupa materi atau non materi,”
Maka dengan
mengikuti pengertian ini seharusnya kita paham bahwa rezeki tidaklah harus
berupa harta benda semata. Dengan kesalahan pengertian inilah, kita sering
terjebak dalam kebutuhan yang tidak pernah berakhir, terlebih di zaman ketika
banyak orang haus akan validasi atau pengakuan seperti saat ini. Hal inilah
menyebabkan kita selalu membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain dan
selalu merasa kurang.
Padahal Allah
Ta’ala telah berfirman:
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin
rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat
penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.(QS. Hud:6)
Ayat ini
merupakan jaminan dari Allah Ta’ala kepada seluruh makhluk hidup agar tidak
risau dalam urusan rezeki, Karena rezeki sudah dijamin oleh Allah Ta’ala kepada
siapa dan dimanapun berada, semua akan tepat pada porsinya.
Ada dua alasan
mendasar seseorang selalu merasa kurang dan kurang diberkahi rezekinya. Pertama, salah memaknai tentang rezeki,
kedua adalah lalai bahwa rezeki
adalah jaminan langsung dari Allah Ta’ala. Maka kita perlu berbenah diri dan
menjalankan cara meraih rezeki yang halal, di antaranya:
Pertama adalah dengan selalu bersyukur, mari bersama-sama kita syukuri semua hal
yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita, mulai dari hal yang paling
sering dilupakan yaitu nafas, coba kita bayangkan apabila Allah tidak memberi
oksigen kepada kita, tentu kita tidak akan bisa hidup dan menikmati
nikmat-nikmat Allah yang lain.
Kedua adalah selalu bertawakal kepada Allah Ta’ala dengan tidak melupakan bekerja,
yakni dengan selalu percaya dan yakin akan jaminan rezeki dari Allah kepada
semua makhluk-Nya dan disertai usaha sungguh-sungguh mencari rezeki yang
halal.
Ketiga yaitu dengan menjaga pola hidup sederhana dan meningkatkan sedekah.
Dengan menjaga pola hidup sederhana, kita akan mendapatkan ketenangan dalam
menyikapi setiap hal, tidak akan mudah risau terhadap pencapaian orang lain,
terlebih ditambah meningkatkan sedekah, tentu hal ini akan menjadikan rezeki
kita berkah dan bermanfaat bagi sesama.
Keempat, dengan meningkatkan ibadah dan doa. Ibadah dan doa merupakan simbol
kehambaan orang beriman, dari sinilah kita dapat mencari ketenangan. Terlebih
dalam merasakan keberkahan rezeki, kita semua tentu mengetahui bahwa Allah
Ta’ala memberi kita rezeki bahkan memberi kita kehidupan sejatinya hanya untuk
beribadah kepada-Nya, maka keberkahan rezeki yang paling agung adalah dengan
menggunakan rezeki dan seluruh nikmat yang diberikan Allah Ta’ala untuk ibadah
kepada-Nya.
Mari kita
renungkan kembali sabda baginda nabi Muhammad SAW dalam hadits yang
diriwayatkan Ibnu Umar r.a:
“Bekerjalah untuk duniamu seolah akan hidup selamanya, dan
beramalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari.”
Sabda baginda
nabi tersebut, secara tersirat menekankan akan pentingnya proporsional dalam
mencari rezeki di dunia dan sungguh-sungguh menjadikan rezeki yang telah dicari
di dunia untuk menggapai kesuksesan dalam mencari pahala untuk bekal menuju
akhirat.
Inilah
kesimpulan bahwa rezeki berkah adalah rezeki yang dapat mendekatkan pemilik
rezeki dengan dzat yang telah memberinya rezeki yaitu Allah Ta’ala, dan dapat
menjadikan rezekinya menjadi jalan untuk mendapat ampunan dan rahmat dari Allah
Ta’ala. #rif